Materialisme dan Hedonisme dalam Valentine’s Day

12 Feb 2016

Valentine’s Day. Sebuah Hari di bulan Februari tepatnya tanggal 14 yang menjadi momen mengungkapakan rasa sayang bagi orang yang merayakannya. Bukanlah sebuah kesalahan untuk mengungkapkan kasih sayang pada hari hari khusus karena setiap hari perlu persepsi agar berarti.

Ramainya perdebatan tentang Valentine’s Day membuat penulis juga merasa untuk ikut serta mengikutinya. Ada dua golongan yang menentang tentang peringatan Valentine’s Day ini. Yang satu merasa itu bukan budaya kita jadi lantas tidak layak kita tiru. Di lain pihak adalah pendukung yang merasa perayaan itu tidak salah karena merayakan kasih sayang. Di belakang barisan pendukung inilah ada beberapa tangan tak terlihat yang hendak menjual pesta pesta yang ujung-ujungnya adalah Kapital/Uang.

Dalam riuh rendahnya hedonisme, pesta adalah kebutuhan wajib yang mesti ada. Tentu kurang absah apabila penganut hedonis tak merayakan pesta dan setiap momen bagi mereka adalah perayaan, perayaan, dan perayaan pesta. Di sinilah peluang yang ditangkap oleh kapitalis untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dengan cara menjual aneka ragam pemuas keinginan para pemuja pesta tersebut.

Melihat yang demikian tentunya kita perlu pertanyakan kembali perdebatan antara dua golongan yang saling kontra dalam perayaan Valentine’s Day tersebut. Titik temu dari dua golongan tersebut adalah bahwa mengungkapkan kasih sayang itu penting dan dianjurkan tanpa harus dengan pesta pesta yang malah jauh dari rasa kasih dan sayang itu sendiri. Setiap hari adalah kewajiban kita untuk mengungkapakan kasih dan sayang karena menebar kasih dan sayang sebenarnya bukan untuk orang lain karena tindakan itu berimbas pada diri pelaku.

Kasih dan Sayang bukanlah sexual interest yang selama ini disalahartikan oleh sebagian kaum hedonis. Kasih dan sayang adalah keabadian dalam cinta dan kedamaian. Ia bukanlah kenikmatan sesaat sebagaimana dalam interaksi seksual. Dan kenikmatan sesaat inilah yang biasanya lebih laku dijual oleh penganut materialisme di era yang serba ingin praktis dan instan ini.

Tentunya menjadi tanggung jawab kita semua untuk memberikan wawasan akan perayaan kasih sayang ini tak peduli dalam momen apapun itu. Kasih sayang yang lebih abadi sebagaimana perasaan  rela berkorban, simpati, empati, dan peduli lebih membekas daripada hanya dengan hadiah hadiah yang belum pasti si penerima itu membutuhkannya.

Akan lebih bagus lagi bila kita bisa memberikan teladan  perayaan Valentine’s Day dengan cara untuk saling berbagi dengan yang kurang mampu bukan cara bagi-bagi kondom yang beberapa tahun lalu pernah terjadi ketika perayaan hari AIDS. Kasih sayang bukanlah interaksi seksual dan jangan nodai perayaan perayaan dengan lasan apapun dengan niat buruk hubungan sex diluar nikah.

Biar bagaimanapun kasih sayang itu luhur harus kita tebarkan tiap hari tanpa menunggu hari spesial. Bukankah tiap hari kita ( umat Islam ) ini sudah Rahman dan Rahim yang terucapkan tiap hari. Mengapa tidak mencoba mengejowantahkan dalam tindak dan laku kita sehingga kita bisa memberikan kedamaian untuk semua tanpa pilih kasih karena dalam kasih sayang tidak mengenal pilih kasih. Selamat menebarkan kasih dan sayang ke orang-orang di sekitar Anda. 


TAGS Valentine's Day meterilaisme hedonisme


-

Author

Saya adalah arsiparis di Dinas Kearsipan Daerah Kabupaten Lamongan. Saya juga ngajar Seni dan budaya di SMAM6 Ponpes Karangasem Paciran, Lamongan. Yang pasti saya suka nulis itu saja.

Search

Recent Post