Gubernur Jakarta Harus Memahami Jakarta Adalah Kota Metropolitan

18 Apr 2017

Menjadi seorang gubernur Jakarta, tidaklah mudah mengingat kompleknya aneka ragam penduduknya. Hampir semua suku di Indonesia hadir di dalamnya. Tentunya kita tidak bisa mendominasikan budaya salah satu suku saja.

Dengan keanekaragaman penduduk yang demikian komplek tentu berimbas pada kultur yang berbeda pula. Sebagai pemimpin Jakarta tentunya, Gubernur Jakarta harus bisa mengakomodir dan bersikap sebagaimana karakter warganya yang berbeda latar budaya.

Betawi sebagai suku asli Jakarta tidak lagi bisa mendominasi mengingat Jakarta adalah ibukota Indonesia maka secara otomatis pun menjadi milik seluruh warga negara Indonesia. Kebesaran sikap warga betawi menjadi penting untuk menjadikan jakarta menjadi lebih dinamis.

Gubernur Jakarta haruslah berjiwa pancasilais sejati yang juga berarti menghayati keragaman yang ada. Diakui atau tidak yang terlibat membesarkan Jakarta adalah orang orang daerah yang telah menetap di ibukota.

Gubernur Jakarta pun harus bisa menjadi barometer daerah lain jangan hanya sebagai sentra ibukota yang identik dengan kriminalitas akibat begitu sengitnya persaingan dalam akses ekonomi untuk memenuhi hajat hidup semata.

Kita mendambakan sebuah wajah ibu kota yang santun dan damai serta kondusif untuk sarana belajar warga daerah agar bisa berkiprah di daerah tanpa harus urbanisasi ke ibukota. Untuk itu, semua kegiatan di Jakarta haruslah bisa diterapkan di daerah bukan hanya sekedar gaya hidupnya saja yang bisa dicontoh orang daerah.

Kegiatan pemerintahan, kebudayaan, sosial dan ekonomi haruslah menginspirasi dan bisa dilakukan juga di daerah sehingga sebagai ibukota, Jakarta tidak lagi terbebani oleh urbanisasi kaum kecil minim ketrampilan yang hanya memunculkan kesenjangan sosial dan berimbas pada maraknya kriminalitas.

Yang lebih menjadi sorotan adalah pemahaman Jakarta sebagai ibukota negara harus melekat pada jiwa Gubernur Jakarta. Jakarta adalah metropolitan bahkan sudah hampir Kosmopolitan mengingat banyaknya warga negara lain yang juga hidup dan beraktivitas di Jakarta.

Gubernur Jakarta harus berwawasan global bukan lagi berfikir lokal saja. Kemampuan berinteraksi dengan warga daerah sekaligus warga dunia mutlak dimiliki agar dinamika kehidupan di Jakarta bisa lebih bisa dipahami tanpa harus melepaskan kekhasan lokal.

Akhirnya tidak mudah memang menjadi Gubernur Jakarta mengingat posisinya sebagi ibukota. Namun, dengan pemahaman kebhinekaan yang matang dan komprehensif tentunya lambat laun pemahaman semua warga negara Indonesia dan khususnya Betawi akan juga ikut berkembang karena Jakarta dalah milik bersama jika kita bersandar bahwa Jakarta adalah Ibukota Negara.


TAGS OPINI


-

Author

Saya adalah arsiparis di Dinas Kearsipan Daerah Kabupaten Lamongan. Saya juga ngajar Seni dan budaya di SMAM6 Ponpes Karangasem Paciran, Lamongan. Yang pasti saya suka nulis itu saja.

Search

Recent Post