Tak Ada Kemerdekaan Bila Pejabatnya Bermental Kolonial

18 Aug 2017

Mumpung masih dalam suasana memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-72 saya jadi ingin mengingatkan kembali arti kemerdekaan itu. Merdeka adalah kebebasan dalam segala hal. Sebagai sebuah bangsa kita diakui sebagai bangsa yang bebas menentukan arah langkah kita sebagai sebuah bangsa ketika Presiden Soekarno memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

Setelah sekian lama merdeka apakah kita merasakan betul nikmat  sebagai warga negara sebuah bangsa yang merdeka. Kita merdeka dari pemerintah kolonial Belanda yang sebegitu lama memerintah kita sebagai koloninya. Sebagai koloni Belanda kita harus tunduk dengan apa apa yang diinginkan oleh pemerintah kolonial.

Pemerintah kolonial, seperti yang kita tahu dari beberapa dokumen dan pelajaran sejarah, mempekerjakan pejabat pejabat yang dalam banyak kasus kejam, otoriter, dan korup. Seringkali mereka memaksakan kehendaknya kepada rakyat Indonesia dengan sebegitu rupa dengan alasan merupakan kebijakan negara Belanda.

Apa yang terjadi saat itu adalah bagaimana pejabat kolonial itu bertindak seolah sebagai bos yang harus dihormati oleh penduduk koloninya. Kita adalah budak budaknya yang harus patuh tanpa harus banyak protes. Namun, kenyataanya mereka adalah pribadi pribadi yang korup yang hanya mementingkan kepentingan pribadi dan kondisi itulah yang pada akhirnya memunculkan ide nasionalisme di negara kita.

Apakah Kini Sudah Berubah?

Setelah kita merdeka apakah situasi juga berubah saat pejabat koloial itu digantikan oleh pejabat pejabat negeri sendiri. Tentunya kondisi ini masih banyak perdebatan. Sebagai bangsa yang merdeka kita telah mengalami perubahan dalam hal akses pendidikan dan pelayanan publik lainnya.

Namun, terkait dengan mental pejabat pejabat yang menjalankan roda pemerintahan saya rasa kita masih sepakat belum ada perubahan yang signifikan-hampir sama dengan masa kolonial.

Masih ditemui di negeri ini pejabat yang berkedudukan tinggi sewenang wenang terhadap bawahan. Baru baru ini terjadi seorang petinggi lembaga tertentu yang menampar pramugari. Bahkan masih banyak ditemui pejabat pejabat yang minta diperlakukan khusus sebagai ndoro ketika mereka berkepentingan dengan pelayanan publik.

Dan untuk hal yang satu ini, yaitu korupsi, bisa dikatakan malah sama persis dengan pejabat kolonial. Saya takut jangan jangan perilaku korupsi pejabat kita  malah melebihi perilaku pejabat kolonial.

Kondisi di atas itulah yang menyebabkan tidak meratanya pembangunan sehingga saudara saudara kita yang berada jauh dengan pusat kekuasaan malah tidak merasakan kue pembangunan akibat kemerdekaan. Mereka terasing di negeri sendiri meski kemerdekaan telah lama kita jalani.

Menarik untuk kita renungkan kembali sudahkan kita mewujudkan kemerdekaan itu secara utuh mengingat cita cita kemerdekaan kita adalah mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Apakah kita masih berpura pura lupa, kalau tidak bisa disebut menghianati, cita cita kemerdekaan yang telah digariskan oleh para founding father negara kita dalam sebuah teks Pembukaan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 itu.

Semoga tulisan singkat ini mampu merefresh kembali pemahaman kita akan sebuah kemerdekaan, dan tidak silau dengan mental pejabat kolonial yang berorientasi kekuasaan dan materi. Anda setuju?


TAGS Kemerdekaan Kolonial Belanda


-

Author

Saya adalah arsiparis di Dinas Kearsipan Daerah Kabupaten Lamongan. Saya juga ngajar Seni dan budaya di SMAM6 Ponpes Karangasem Paciran, Lamongan. Yang pasti saya suka nulis itu saja.

Search

Recent Post