Kekalahan McGregor Karena MMA dan Tinju Aturanya Berbeda

27 Aug 2017

Conor McGregorMenarik sekali melihat pertarungan antara Floyd Mayweather melawan Conor McGregor pagi Minggu 27/8/17 waktu Indonesia . ini adalah pertarungan antara dua petarung dengan ajang yang berbeda yang mencoba diadu dalam cabang tinju. Mayweather, sebagai petinju, diuntungkan dengan kondisi pertarungan ini karena McGregor adalah seorang petarung campuran atau mix martial art (MMA).

Meski McGregor seorang petarung yang juga memungkinkan melakukan teknik bertinju, namun sebagaimana prediksi para pengamat tinju, McGregor akan kesulitan untuk menghadapi Mayweather yang mempunyai basic murni sebagai seorang petinju.

Dan prediksi pengamat tinju benar karena pada pertarungan pagi ini McGregor hanya mampu menghadapi Mayweather sampai ronde 10 saja. Di ronde ronde awal McGregor terlihat mampu mengimbangi Mayweather, pelan namun pasti, ia kedodoran secara fisik untuk bertarung selam 12 ronde.

Perbedaan mendasar antar MMA dan tinju adalah durasi ronde dalam setiap pertarungan. Dalam MMA untuk perebutan gelar juara hanya 5 ronde dan perbaikan peringkat Cuma 3 ronde. Beda dengan di cabang tinju karena untuk perbaikan peringkat saja mereka harus bertarung 10 ronde sedangkan untuk perebutan gelar juara 12 ronde.

Ternyata benar bahwa fisik adalah titik kelemahan yang ada pada McGregor. Sejak awal pengamat sudah mempertanyakan sanggupkah ia bertahan bertarung dengan aturan tinju sebanyak 12 ronde? Dan jawabnya McGregor praktis hanya mampu mengimbangi Mayweather di 5 ronde awal selanjutnya hanya bertahan.

Saya jadi teringat apa yang disampaikan Master MMA dari Brazil, Rickson Gracie, dalam suatu wawancara mengenai apa itu esensi pertarungan. Ia menyampaikan bahwa dalam pertarungan MMA sebagaimana pertarungan jalanan kemenangan bukan dengan poin dalam setiap ronde namun lebih bagaimana menyelesaikan pertarungan dengan meminimalisir cedera pada diri sendiri maupun lawan ketika kita bisa membuat lawan itu menyerah.

Sebagai salah satu adik pencetus MMA yang melahirkan Ultimate Fighting Champions (UFC), Rorion Gracie, Rickson Gracie menganggap bahwa UFC bukan lagi sebuah adu ketrampilan bertarung tapi banyak bernuansa hiburan. Dan kondisi ini bagi Rikckson Gracie menyebabkan MMA tidak lagi ramah untuk disaksikan anak anak.

UFC dianggapnya lebih dari segi tontonan yang tidak lagi ramah karena pertarungan lebih sering berjalan lama (karena terlalu banyak aturan yang mengurangi kemungkinan pertarungan diselesaikan secara cepat)  dan berdarah darah.

Apa yang terjadi pada McGregor adalah kesalahan ketika seorang petarung MMA harus bertarung dengan aturan tinju yang tentunya tidak nyambung bagi petarung MMA.

Ada ungkapan menarik dari Adik Rickson Gracie, Royce Gracie mantan juara UFC I, II, dan IV, bahwa seorang petarung harus menggunakan kemampuannya ketika bertarung tanpa harus mengikuti keahlian lawannya di bidang apa. “tidak mungkin saya bertinju dengan Mike Tyson karena jelas kalah maka saya harus menggunakan kemampuan Jiujitsu saya,” katanya dalam suatu wawancara.

Apa yang McGregor lakukan membuktikan perkataan kedua Master Jiujitsu itu terbukti benar. MMA mempunyai aturan bahwa setiap petarung boleh bertarung dengan teknik apa saja untuk memperoleh pertarungan. Nah bila mereka bertarung dengan aturan satu jenis cabang olah raga hasilnya bisa ditebak.

Dan tinju sekali lagi bukanlah MMA karena di olah raga tinju ada sedikit nuansa hiburannyanya. Mayweather begitu perkasa di dunia tinju. Mungkin akan berbeda ceritanya bila ia harus mengahadapi McGregor di ajang yang memungkinkan McGregor melakukan segalanya, yaitu di arena MMA. Mungkin ini akan menjadi pertarungan yang menarik. Siapa tahu?


TAGS Conor McGregor Floyd Mayweather MMA UFC Royce Gracie Rickson Gracie


-

Author

Saya adalah arsiparis di Dinas Kearsipan Daerah Kabupaten Lamongan. Saya juga ngajar Seni dan budaya di SMAM6 Ponpes Karangasem Paciran, Lamongan. Yang pasti saya suka nulis itu saja.

Search

Recent Post