Selamat Jalan Kiperku

16 Oct 2017

Deg! Benturan pun tak terhindarkan, sejenak Choirul Huda, Kiper Persela itu memegang dada kirinya, beberapa saat kemudian ia tak sadarkan diri. Ia langsung di bawa ke luar Stadion Surajaya. Benturan dengan rekan setim, Ramon Rodrigues De Mesquita, akhirnya membuat Sang Kiper legendaris Lamongan itu pergi selamanya.

Meski pertandingan pada 15/10/2017 Persela menang 2-0 melawan Semen Padang, namun usai pertandingan yang terjadi adalah hujan tangis karena mendengar kabar meninggalnya Choirul Huda.

Choirul Huda adalah ikon kesebelasan asal Lamongan, Persela. Ingatan saya melayang jauh ke belakang sekitar tahu 97/98 di mana saat itu sedang berlangsung Bupati Cup se Kabupaten Lamongan. Kesebelasan Kota Lamongan sedang berhadapan dengan Kecamatan Paciran. Kekaguman saya adalah pada sosok kiper Kota Lamongan yang begitu sigap dan cekatan mengamankan gawangnya. Saya pun dibuat geram mengingat saat itu saya adalah suporter Kesebelasan Kecamatan Paciran. Meski bertubi tubi dibombardir kesebelasan kami, gawang Kota Lamongan tetap bersih tak kebobolan. Itu semua berkat penjaga gawang muda penuh bakat Choirul Huda.

Berangkat dari turnamen antar kampung sosok Huda memang akrab dengan penggemar sepakbola di Lamongan khususnya, mania bola Pantura Lamongan. Ketika di awal tahun 2000 Persela masuk ke jajaran kompetisi nasional, saat itu Divisi II, Huda sebagai putra daerah sudah dipercaya untuk mengawal gawang kesebelasan kebanggaan warga Lamongan ini.

Perlahan namun pasti prestasi Persela merangkak menuju ke kasta yang lebih tinggi namun ada satu yang tak berubah, sosok di bawah mistar gawang adalah Sang Legenda, Choirul Huda. Sepanjang karirnya dalam sepakbola Huda memang bisa dianggap sebagai pemain yang loyal dan setia pada satu klub yakni, Persela Lamongan. Sungguh sebuah teladan di tengah godaan besaran uang transfer. Dan Huda tetap bergeming setia pada tim daerah kelahirannya, luar biasa!

Untuk level kiper, memang nama Huda tergolong kiper papan atas di persepakbolaan nasional. Bahkan pernah juga masuk seleksi Tim Nasional ( Timnas ), meski tak pernah terpilih untuk membela Timnas Indonesia tapi Huda bisa menjaga kemampuannya tetap di level atas untuk kategori kiper. Meski sudah tergolong tua pemain kelahiran 1980 ini tetap mampu bersaing dengan pemain pemain muda lainnya. Itulah alasan Persela selalu setia menggunakan jasanya dan bukan semata-mata putra daerah.

Apa yang pernah saya saksikan dua puluh tahun lalu itu, ternyata tak berubah bahkan semakin meningkat saat saya menyaksikan Persela Lamongan bermain di Stadion Surajaya Lamongan. Huda seakan memberikan ketenangan hati LA Mania, julukan suporter Persela, bila ia sedang mengawal gawang tim kebangaan Lamongan ini.

Beberapa prestasi lokal bersama Persela sudah pernah di rengkuh Huda bersama Persela Lamongan, salah satunya Piala Gubernur Jawa Timur, di mana Huda sempat beberapa kali mengantarkan Persela sebagai juara I.

Kini, teriakan sang kapten dari belakang tak akan lagi terdengar saat Persela main di Surajaya Lamongan. Kami LA Mania akan merindukan saat saat itu. Takdir sudah menentukan batasan usia seseorang. Kini Sang Kiper cekatan itu telah meninggalkan lapangan hijau selamanya. Warga Lamongan berduka dan tak terkecuali seluruh insan sepakbola tanah air akan merindukan aksi aksinya yang brilian dalam mengamankan gawangnya. Selamat jalan kiperku. Semoga khusnul khotimah. Amin.


TAGS Choirul Huda Persela Lamongan


-

Author

Saya adalah arsiparis di Dinas Kearsipan Daerah Kabupaten Lamongan. Saya juga ngajar Seni dan budaya di SMAM6 Ponpes Karangasem Paciran, Lamongan. Yang pasti saya suka nulis itu saja.

Search

Recent Post