• 19

    Jun

    Ngabuburit Meneladani Jejak Yi Man

    Ketika sebuah komunitas Alumni sebuah Pondok Pesantren beraktivitas membuat sebuah event, maka yang dilakukan tentunya akan tidak jauh dari apa yang pernah dilakukan oleh Kyainya. Komunitas Al Bisos dari Pondok Pesantren ( Ponpes) Karangasem, Paciran, Lamongan, Jawa Timur ini salah satunya. Mereka menggelar acara buka bersama dengan cara mengundang anak anak yatim dari Panti asuhan Yatim Ponpes Karangasem.       Hari Minggu 18/6/17 kemarin Al Bisos  mengajak seluruh mantan Ust di ponpes Karangasem untuk bersama berbagi keceriaan bersama anak anak yatim di Desa Karang wungu tepatnya di kediaman Gus Huda salah satu anggota Al Bisos yang sukses sebagai Ustadz sekaligus seorang direktur perusahaan yaitu PT. Kawung. Sore itu mereka bersama sa
    Read More
  • 18

    Apr

    Gubernur Jakarta Harus Memahami Jakarta Adalah Kota Metropolitan

    Menjadi seorang gubernur Jakarta, tidaklah mudah mengingat kompleknya aneka ragam penduduknya. Hampir semua suku di Indonesia hadir di dalamnya. Tentunya kita tidak bisa mendominasikan budaya salah satu suku saja. Dengan keanekaragaman penduduk yang demikian komplek tentu berimbas pada kultur yang berbeda pula. Sebagai pemimpin Jakarta tentunya, Gubernur Jakarta harus bisa mengakomodir dan bersikap sebagaimana karakter warganya yang berbeda latar budaya. Betawi sebagai suku asli Jakarta tidak lagi bisa mendominasi mengingat Jakarta adalah ibukota Indonesia maka secara otomatis pun menjadi milik seluruh warga negara Indonesia. Kebesaran sikap warga betawi menjadi penting untuk menjadikan jakarta menjadi lebih dinamis. Gubernur Jakarta haruslah berjiwa pancasilais sejati yang juga berarti m
    Read More
  • 21

    Nov

    Bu Rati yang Sabar Dan Tak Pilih Kasih

    Namanya Surati tapi kami memanggilnya Bu Rati. Beliau adalah guru kelas lima di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Paciran 1. Pada saat itu tahun 80-an pola mengajar masih ada sedikit kekerasan kecil misalnya memukul dengan penggaris kayu, memukul dengan kemoceng, atau menjewer telinga. Namun, selama aku di SDN dulu tak pernah sekalipun melihat Bu Rati melakukan itu. Bahkan membentak pun beliau tidak pernah. Senjata beliau adalah menangis bila anak anaknya nakal, dan bila sudah begitu kami pun terdiam dan patuh kembali. Dalam mengajar kami pun Bu Rati tak pernah membeda-bedakan kami. Baik itu anak petani, nelayan atau pun anak priyayi (PNS) Bu Rati mempelakukan kami semua seperti beliau memperlakukan anaknya sendiri. Bu Rati biasa memanggil kami anak laki-laki dengan panggilan akrab, Cung, (Kacun
    Read More
- Next

Author

Saya adalah arsiparis di Dinas Kearsipan Daerah Kabupaten Lamongan. Saya juga ngajar Seni dan budaya di SMAM6 Ponpes Karangasem Paciran, Lamongan. Yang pasti saya suka nulis itu saja.

Search

Recent Post